"Ted, itu seriusan lu di tipi?"
...
Hari Kamis bulan lalu, tepatnya tanggal 19 November 2015, gue diundang oleh salah satu stasiun tv Indonesia yaitu .NET tv untuk hadir menjadi tamu (doang, bukan bintang tamu) di acara "ini talk show".
Iya. Mamake! Anakmu masuk tepe, Mamake!
Temen-temen gue langsung heboh, keluarga gue heboh, Binus sampe ngadain nobar di ruang dekan. Oke, yang terakhir lupakan.
Dan, malam setelah gue tampil, segelintir pertanyaan membanjiri semua sosmed gue. Semisal, kenapa gue bisa diundang, gimana rasanya, sampe ada yang titip salam enggak jelas seperti, "Ted titip salam BUAT GUE ya." Entah kepada siapa gerangan dia titip salam.
Gini, gini. Gue juga enggak tau kenapa gue bisa diundang, entah ada angin yang berhembus dari pantat siapa, gue enggak tau dan enggak nyium. Tiba-tiba, rabu malam sebelum hari H, ketika gue lagi ngecek twitter, ada mention dari orang yang gue enggak kenal masuk ke notification gue. Mentionnya begini,
Reaksi gue pertama kali ngeliat mention ini adalah... Gila, ini orang rambutnya eksentrik abis.
Tunggu, ini orang ngakunya dari NET. Apa?! NET!
Hmm... NET itu merupakan kata dalam bahasa inggris yang dalam bahasa indonesia berarti jaring. Mungkin semacam asosiasi nelayan rambut biru indonesia. Bisa jadi dia mau merekrut gue untuk masuk ke asosiasi tersebut karena melihat potensi rambut gue yang akan menjadi trend center baru bagi para nelayan jika diberi cat warna biru.
Dari pada panjang lebar dan logika gue semakin sakit, akhirnya gue ngasih nomor hp gue lewat DM twitter.
Enggak lama, si terduga anggota asosiasi nelayan rambut biru Indonesia ini nelepon gue.
"Halo, dengan Mas Teddy?" Suara seorang cewek menyapa gue di ujung telepon.
"Err, iya, betul."
"Katanya Mas Teddy mirip dengan Raditya Dika?"
DAFFFFUK! Entah kenapa kutukan ini masih ada dan entah kenapa ada orang di Jakarta yang menyadarinya.
Akhirnya orang yang tadinya terduga anggota asosiasi nelayan rambut biru Indonesia ini memperkenalkan dirinya ke gue, namanya Mbak Giuliana Puti. Kalo enggak salah inget, iya, itu namanya (kan sama kayak twitternya). Ya, sebut saja Mawar. Oke, sebut saja Mbak Puti.
Jadi Mbak Puti ini ternyata adalah salah seorang anggota tim kreatif acara "ini talk show" dari .NET tv. Di telepon, Mbak Puti menjelaskan ke gue kalo gue diundang ke acara ini talk show LIVE (live guys, kapan lagi) untuk menjadi fake Radit. Iya, FAKE RADIT.
Anjir. Sudah cukup satu Lampung memirip-miripkan gue dengan manusia itu dan sekarang satu Indonesia akan memirip-miripkan gue.
"Iya, Mas pura-pura jadi Raditya Dika, stand up gitu."
STAND UP GITU-nya itu bukan sekedar, GITU lho mbak. Gue bakal ditonton hampir satu Indonesia dan itu artinya kalo gue ada salah ngomong, gue bakal dirajam massa.
"Pakai materi Raditya Dika yang lama aja Mas, enggak apa-apa, nanti kami guide."
Malunya itu, mana bisa diguide.
Setelah dijelasin panjang lebar, negosiasi panjang lebar, dan akhirnya gue menyetujui untuk hadir ke acara tv tersebut.
Hari H, gue berangkat dari kampus setelah selesai UTS sekitar jam setengah lima. Iya, gue lagi UTS saat itu. Persetan, gue ngisi ngarang semua. Gue naik gojek dari kampus ke studio .NET tv dan tiba di tempat tujuan setelah menerjang lautan kemacetan.
Begitu tiba di studionya, gue dengan susah payah ngontak Mbak Puti karena sinyal hp gue tiba-tiba dafuk, dan Mbak Puti sang malaikat berambut nyentrik keluar dari studio menjemput gue.
Gue diminta nunggu sambil baca-baca script stand up yang akan gue perform nanti di tempat yang sepertinya ruang tunggu gitu.
Selang beberapa waktu, Om Sule dan Andre lewat. Fuck! Artis men. Orang-orang susah payak ketemu artis, sedangkan gue artis lewat, gue jojong aja.
Dan, ketika lagi bener-bener serius baca script, tiba-tiba seseorang lewat di depan gue. Gue cuma ngeliat kakinya doang saking serius. Begitu gue nengok sedikit ke belakang, ternyata Raditya Dika yang lewat. Udah 3 artis yang gue biarin lewat begitu aja.
Setelah nunggu sekitar setengah jam, akhirnya semua tim acara dikumpulkan di ruang tunggu untuk briefing. Disitu juga ada Om Parto, Tante Nunung, dan Pak Haji Bolot. Briefing acara dimulai, satu persatu dijelaskan kepada tim, hingga Mbak Puti memperkenalkan gue ke tim.
"Nanti jadi ada Raditya Dika palsu yang diperankan oleh Mas Teddy."
Mata semua orang terarah ke gue semua. Gue cuma pelanga-pelongo, pura-pura bego aja disitu.
"Dadah-dadah dong Mas Teddy," kata seorang Mas-Mas yang gue enggak inget siapa namanya.
Gue langsung senyum grogi sambil melabaikan tangan. Satu orang dari tergaris bawah artis yang ngasih feed back senyum ke gue. Gue enggak pernah se-awkward itu seumur hidup gue dan FUCK! Gue baru tau ternyata artis-artis yang keliatannya lucu di layar tv itu sebenernya jutek. BANGET.
Setelah momentum briefing yang sangat awkward itu, gue diminta untuk ke ruang make up untuk... Ya, jelas untuk di make up dan juga ganti baju. Gue enggak ngerti gue di make up gimana ceritanya, yang pasti gue cuma ngerasa muka gue di semprot-semprot, sama rambut gue dibejek-bejek. Baju yang dikasih juga kegedean, terutama jasnya. Sampe-sampe dicariin penggantinya yang sama aja kegedeannya.
15 Menit sebelum acara live dimulai. Gue udah stand by di back stage. Ngapalin script stand up yang tadi dikasih sambil ngobrol-ngobrol sama Mas yang entah siapa namanya gue lupa.
Terdengar suara penonton yang sedang diberi pengarahan tentang acaranya nanti. Jelas gue yang lagi ngapalin script di back stage makin buyar dan grogi.
Gak berapa lama, tiba-tiba datang Raditya Dika ke back stage. Awkward moment terjadi kembali. Apa yang harus lu lakukan ketika bertemu dengan orang yang katanya mirip lu dengan kondisi lu sedang berpakaian hampir sama dengan dia.
Dia berjalan menghampiri gue, dari jauh gue senyum-senyum homo, dia juga udah ngeliatin gue dari jauh, dan ketika udah deket, tadinya gue berpikir dia juga bakal jutek, tapi ternyata dia nyalamin gue dengan cara hi five.
Fuck, cuma dia ternyata disini, artis yang enggak songong. Like ur style dude!
Kedatangan Bang Radit disusul dengan kedatangan seorang cewek yang gue enggak tau namanya siapa, yang pasti dia artis. Juga datang Chandra Liow dan so yolo duduk di samping gue serasa gue enggak ada. Songong abis.
Apa perlu gue yang nyapa duluan? Halo, Ko Chandra! Gimana shooting filmnya? Gue pasti nonton film lu nanti Ko. HELL NO!
Kata-kata super tiba-tiba membuyarkan kejengkelan gue, "3 menit menuju live."
Oh, shit! Oke, Teddy tenang. Lu pasti bisa. Time to nut up or shut up.
Dan akhirnya gue tampil di segemen satu dengan lancar sentosa.
Ya, kira-kira begitulah ceritanya gue tampil di televisi secara live.
Kalo ditanya perasaanya gimana, ya, pastinya deg-degan banget. Jantung gue hampir geser ke ginjal. Bangga? Gue enggak ngerti apa yang harus dibanggain dari nongol sekali satu segmen di acara tv. Tapi, kalo ditanya seneng, so pastinya seneng karena gue pastinya bakal dapet duit.
Keesokan harinya setelah gue muncul di tv, tiba-tiba nyokap gue nelepon dan bilang kalo temen nyokap gue dan keluarga gue di Lampung pada heboh ngomongin gue. Gue enggak tau harus ngomong apa kalo pulang ke Lampung. Muka gue udah nggak muat mau ditarok pantat mah.
But, at least, gue udah bisa membuat mamak di rumah bangga karena anaknye masuk tipi.
...
Hari Kamis bulan lalu, tepatnya tanggal 19 November 2015, gue diundang oleh salah satu stasiun tv Indonesia yaitu .NET tv untuk hadir menjadi tamu (doang, bukan bintang tamu) di acara "ini talk show".
Iya. Mamake! Anakmu masuk tepe, Mamake!
Temen-temen gue langsung heboh, keluarga gue heboh, Binus sampe ngadain nobar di ruang dekan. Oke, yang terakhir lupakan.
Dan, malam setelah gue tampil, segelintir pertanyaan membanjiri semua sosmed gue. Semisal, kenapa gue bisa diundang, gimana rasanya, sampe ada yang titip salam enggak jelas seperti, "Ted titip salam BUAT GUE ya." Entah kepada siapa gerangan dia titip salam.
Gini, gini. Gue juga enggak tau kenapa gue bisa diundang, entah ada angin yang berhembus dari pantat siapa, gue enggak tau dan enggak nyium. Tiba-tiba, rabu malam sebelum hari H, ketika gue lagi ngecek twitter, ada mention dari orang yang gue enggak kenal masuk ke notification gue. Mentionnya begini,
Reaksi gue pertama kali ngeliat mention ini adalah... Gila, ini orang rambutnya eksentrik abis.
Tunggu, ini orang ngakunya dari NET. Apa?! NET!
Hmm... NET itu merupakan kata dalam bahasa inggris yang dalam bahasa indonesia berarti jaring. Mungkin semacam asosiasi nelayan rambut biru indonesia. Bisa jadi dia mau merekrut gue untuk masuk ke asosiasi tersebut karena melihat potensi rambut gue yang akan menjadi trend center baru bagi para nelayan jika diberi cat warna biru.
Dari pada panjang lebar dan logika gue semakin sakit, akhirnya gue ngasih nomor hp gue lewat DM twitter.
Enggak lama, si terduga anggota asosiasi nelayan rambut biru Indonesia ini nelepon gue.
"Halo, dengan Mas Teddy?" Suara seorang cewek menyapa gue di ujung telepon.
"Err, iya, betul."
"Katanya Mas Teddy mirip dengan Raditya Dika?"
DAFFFFUK! Entah kenapa kutukan ini masih ada dan entah kenapa ada orang di Jakarta yang menyadarinya.
Akhirnya orang yang tadinya terduga anggota asosiasi nelayan rambut biru Indonesia ini memperkenalkan dirinya ke gue, namanya Mbak Giuliana Puti. Kalo enggak salah inget, iya, itu namanya (kan sama kayak twitternya). Ya, sebut saja Mawar. Oke, sebut saja Mbak Puti.
Jadi Mbak Puti ini ternyata adalah salah seorang anggota tim kreatif acara "ini talk show" dari .NET tv. Di telepon, Mbak Puti menjelaskan ke gue kalo gue diundang ke acara ini talk show LIVE (live guys, kapan lagi) untuk menjadi fake Radit. Iya, FAKE RADIT.
Anjir. Sudah cukup satu Lampung memirip-miripkan gue dengan manusia itu dan sekarang satu Indonesia akan memirip-miripkan gue.
"Iya, Mas pura-pura jadi Raditya Dika, stand up gitu."
STAND UP GITU-nya itu bukan sekedar, GITU lho mbak. Gue bakal ditonton hampir satu Indonesia dan itu artinya kalo gue ada salah ngomong, gue bakal dirajam massa.
"Pakai materi Raditya Dika yang lama aja Mas, enggak apa-apa, nanti kami guide."
Malunya itu, mana bisa diguide.
Setelah dijelasin panjang lebar, negosiasi panjang lebar, dan akhirnya gue menyetujui untuk hadir ke acara tv tersebut.
Hari H, gue berangkat dari kampus setelah selesai UTS sekitar jam setengah lima. Iya, gue lagi UTS saat itu. Persetan, gue ngisi ngarang semua. Gue naik gojek dari kampus ke studio .NET tv dan tiba di tempat tujuan setelah menerjang lautan kemacetan.
Begitu tiba di studionya, gue dengan susah payah ngontak Mbak Puti karena sinyal hp gue tiba-tiba dafuk, dan Mbak Puti sang malaikat berambut nyentrik keluar dari studio menjemput gue.
Gue diminta nunggu sambil baca-baca script stand up yang akan gue perform nanti di tempat yang sepertinya ruang tunggu gitu.
Selang beberapa waktu, Om Sule dan Andre lewat. Fuck! Artis men. Orang-orang susah payak ketemu artis, sedangkan gue artis lewat, gue jojong aja.
Dan, ketika lagi bener-bener serius baca script, tiba-tiba seseorang lewat di depan gue. Gue cuma ngeliat kakinya doang saking serius. Begitu gue nengok sedikit ke belakang, ternyata Raditya Dika yang lewat. Udah 3 artis yang gue biarin lewat begitu aja.
Setelah nunggu sekitar setengah jam, akhirnya semua tim acara dikumpulkan di ruang tunggu untuk briefing. Disitu juga ada Om Parto, Tante Nunung, dan Pak Haji Bolot. Briefing acara dimulai, satu persatu dijelaskan kepada tim, hingga Mbak Puti memperkenalkan gue ke tim.
"Nanti jadi ada Raditya Dika palsu yang diperankan oleh Mas Teddy."
Mata semua orang terarah ke gue semua. Gue cuma pelanga-pelongo, pura-pura bego aja disitu.
"Dadah-dadah dong Mas Teddy," kata seorang Mas-Mas yang gue enggak inget siapa namanya.
Gue langsung senyum grogi sambil melabaikan tangan. Satu orang dari tergaris bawah artis yang ngasih feed back senyum ke gue. Gue enggak pernah se-awkward itu seumur hidup gue dan FUCK! Gue baru tau ternyata artis-artis yang keliatannya lucu di layar tv itu sebenernya jutek. BANGET.
Setelah momentum briefing yang sangat awkward itu, gue diminta untuk ke ruang make up untuk... Ya, jelas untuk di make up dan juga ganti baju. Gue enggak ngerti gue di make up gimana ceritanya, yang pasti gue cuma ngerasa muka gue di semprot-semprot, sama rambut gue dibejek-bejek. Baju yang dikasih juga kegedean, terutama jasnya. Sampe-sampe dicariin penggantinya yang sama aja kegedeannya.
15 Menit sebelum acara live dimulai. Gue udah stand by di back stage. Ngapalin script stand up yang tadi dikasih sambil ngobrol-ngobrol sama Mas yang entah siapa namanya gue lupa.
Terdengar suara penonton yang sedang diberi pengarahan tentang acaranya nanti. Jelas gue yang lagi ngapalin script di back stage makin buyar dan grogi.
Gak berapa lama, tiba-tiba datang Raditya Dika ke back stage. Awkward moment terjadi kembali. Apa yang harus lu lakukan ketika bertemu dengan orang yang katanya mirip lu dengan kondisi lu sedang berpakaian hampir sama dengan dia.
Dia berjalan menghampiri gue, dari jauh gue senyum-senyum homo, dia juga udah ngeliatin gue dari jauh, dan ketika udah deket, tadinya gue berpikir dia juga bakal jutek, tapi ternyata dia nyalamin gue dengan cara hi five.
Fuck, cuma dia ternyata disini, artis yang enggak songong. Like ur style dude!
Kedatangan Bang Radit disusul dengan kedatangan seorang cewek yang gue enggak tau namanya siapa, yang pasti dia artis. Juga datang Chandra Liow dan so yolo duduk di samping gue serasa gue enggak ada. Songong abis.
Apa perlu gue yang nyapa duluan? Halo, Ko Chandra! Gimana shooting filmnya? Gue pasti nonton film lu nanti Ko. HELL NO!
Kata-kata super tiba-tiba membuyarkan kejengkelan gue, "3 menit menuju live."
Oh, shit! Oke, Teddy tenang. Lu pasti bisa. Time to nut up or shut up.
Dan akhirnya gue tampil di segemen satu dengan lancar sentosa.
Ya, kira-kira begitulah ceritanya gue tampil di televisi secara live.
Kalo ditanya perasaanya gimana, ya, pastinya deg-degan banget. Jantung gue hampir geser ke ginjal. Bangga? Gue enggak ngerti apa yang harus dibanggain dari nongol sekali satu segmen di acara tv. Tapi, kalo ditanya seneng, so pastinya seneng karena gue pastinya bakal dapet duit.
Keesokan harinya setelah gue muncul di tv, tiba-tiba nyokap gue nelepon dan bilang kalo temen nyokap gue dan keluarga gue di Lampung pada heboh ngomongin gue. Gue enggak tau harus ngomong apa kalo pulang ke Lampung. Muka gue udah nggak muat mau ditarok pantat mah.
But, at least, gue udah bisa membuat mamak di rumah bangga karena anaknye masuk tipi.









