05 Desember 2015

Diundang ke NET.TV

"Ted, itu seriusan lu di tipi?"

...

Hari Kamis bulan lalu, tepatnya tanggal 19 November 2015, gue diundang oleh salah satu stasiun tv Indonesia yaitu .NET tv untuk hadir menjadi tamu (doang, bukan bintang tamu) di acara "ini talk show".

Iya. Mamake! Anakmu masuk tepe, Mamake!

Temen-temen gue langsung heboh, keluarga gue heboh, Binus sampe ngadain nobar di ruang dekan. Oke, yang terakhir lupakan.

Dan, malam setelah gue tampil, segelintir pertanyaan membanjiri semua sosmed gue. Semisal, kenapa gue bisa diundang, gimana rasanya, sampe ada yang titip salam enggak jelas seperti, "Ted titip salam BUAT GUE ya." Entah kepada siapa gerangan dia titip salam.

Gini, gini. Gue juga enggak tau kenapa gue bisa diundang, entah ada angin yang berhembus dari pantat siapa, gue enggak tau dan enggak nyium. Tiba-tiba, rabu malam sebelum hari H, ketika gue lagi ngecek twitter, ada mention dari orang yang gue enggak kenal masuk ke notification gue. Mentionnya begini,

 

Reaksi gue pertama kali ngeliat mention ini adalah... Gila, ini orang rambutnya eksentrik abis.

Tunggu, ini orang ngakunya dari NET. Apa?! NET!

Hmm... NET itu merupakan kata dalam bahasa inggris yang dalam bahasa indonesia berarti jaring. Mungkin semacam asosiasi nelayan rambut biru indonesia. Bisa jadi dia mau merekrut gue untuk masuk ke asosiasi tersebut karena melihat potensi rambut gue yang akan menjadi trend center baru bagi para nelayan jika diberi cat warna biru.

Dari pada panjang lebar dan logika gue semakin sakit, akhirnya gue ngasih nomor hp gue lewat DM twitter.

Enggak lama, si terduga anggota asosiasi nelayan rambut biru Indonesia ini nelepon gue.


"Halo, dengan Mas Teddy?" Suara seorang cewek menyapa gue di ujung telepon.

"Err, iya, betul."

"Katanya Mas Teddy mirip dengan Raditya Dika?"

DAFFFFUK! Entah kenapa kutukan ini masih ada dan entah kenapa ada orang di Jakarta yang menyadarinya.

Akhirnya orang yang tadinya terduga anggota asosiasi nelayan rambut biru Indonesia ini memperkenalkan dirinya ke gue, namanya Mbak Giuliana Puti. Kalo enggak salah inget, iya, itu namanya (kan sama kayak twitternya). Ya, sebut saja Mawar. Oke, sebut saja Mbak Puti.

Jadi Mbak Puti ini ternyata adalah salah seorang anggota tim kreatif acara "ini talk show" dari .NET tv. Di telepon, Mbak Puti menjelaskan ke gue kalo gue diundang ke acara ini talk show LIVE (live guys, kapan lagi) untuk menjadi fake Radit. Iya, FAKE RADIT.

Anjir. Sudah cukup satu Lampung memirip-miripkan gue dengan manusia itu dan sekarang satu Indonesia akan memirip-miripkan gue.

"Iya, Mas pura-pura jadi Raditya Dika, stand up gitu."

STAND UP GITU-nya itu bukan sekedar, GITU lho mbak. Gue bakal ditonton hampir satu Indonesia dan itu artinya kalo gue ada salah ngomong, gue bakal dirajam massa.

"Pakai materi Raditya Dika yang lama aja Mas, enggak apa-apa, nanti kami guide."

Malunya itu, mana bisa diguide.

Setelah dijelasin panjang lebar, negosiasi panjang lebar, dan akhirnya gue menyetujui untuk hadir ke acara tv tersebut.

Hari H, gue berangkat dari kampus setelah selesai UTS sekitar jam setengah lima. Iya, gue lagi UTS saat itu. Persetan, gue ngisi ngarang semua. Gue naik gojek dari kampus ke studio .NET tv dan tiba di tempat tujuan setelah menerjang lautan kemacetan.

Begitu tiba di studionya, gue dengan susah payah ngontak Mbak Puti karena sinyal hp gue tiba-tiba dafuk, dan Mbak Puti sang malaikat berambut nyentrik keluar dari studio menjemput gue.

Gue diminta nunggu sambil baca-baca script stand up yang akan gue perform nanti di tempat yang sepertinya ruang tunggu gitu.

Selang beberapa waktu, Om Sule dan Andre lewat. Fuck! Artis men. Orang-orang susah payak ketemu artis, sedangkan gue artis lewat, gue jojong aja.

Dan, ketika lagi bener-bener serius baca script, tiba-tiba seseorang lewat di depan gue. Gue cuma ngeliat kakinya doang saking serius. Begitu gue nengok sedikit ke belakang, ternyata Raditya Dika yang lewat. Udah 3 artis yang gue biarin lewat begitu aja.

Setelah nunggu sekitar setengah jam, akhirnya semua tim acara dikumpulkan di ruang tunggu untuk briefing. Disitu juga ada Om Parto, Tante Nunung, dan Pak Haji Bolot. Briefing acara dimulai, satu persatu dijelaskan kepada tim, hingga Mbak Puti memperkenalkan gue ke tim.

"Nanti jadi ada Raditya Dika palsu yang diperankan oleh Mas Teddy."

Mata semua orang terarah ke gue semua. Gue cuma pelanga-pelongo, pura-pura bego aja disitu.

"Dadah-dadah dong Mas Teddy," kata seorang Mas-Mas yang gue enggak inget siapa namanya.

Gue langsung senyum grogi sambil melabaikan tangan. Satu orang dari tergaris bawah artis yang ngasih feed back senyum ke gue. Gue enggak pernah se-awkward itu seumur hidup gue dan FUCK! Gue baru tau ternyata artis-artis yang keliatannya lucu di layar tv itu sebenernya jutek. BANGET.

Setelah momentum briefing yang sangat awkward itu, gue diminta untuk ke ruang make up untuk... Ya, jelas untuk di make up dan juga ganti baju. Gue enggak ngerti gue di make up gimana ceritanya, yang pasti gue cuma ngerasa muka gue di semprot-semprot, sama rambut gue dibejek-bejek. Baju yang dikasih juga kegedean, terutama jasnya. Sampe-sampe dicariin penggantinya yang sama aja kegedeannya.

15 Menit sebelum acara live dimulai. Gue udah stand by di back stage. Ngapalin script stand up yang tadi dikasih sambil ngobrol-ngobrol sama Mas yang entah siapa namanya gue lupa.

Terdengar suara penonton yang sedang diberi pengarahan tentang acaranya nanti. Jelas gue yang lagi ngapalin script di back stage makin buyar dan grogi.

Gak berapa lama, tiba-tiba datang Raditya Dika ke back stage. Awkward moment terjadi kembali. Apa yang harus lu lakukan ketika bertemu dengan orang yang katanya mirip lu dengan kondisi lu sedang berpakaian hampir sama dengan dia.

Dia berjalan menghampiri gue, dari jauh gue senyum-senyum homo, dia juga udah ngeliatin gue dari jauh, dan ketika udah deket, tadinya gue berpikir dia juga bakal jutek, tapi ternyata dia nyalamin gue dengan cara hi five.

Fuck, cuma dia ternyata disini, artis yang enggak songong. Like ur style dude!

Kedatangan Bang Radit disusul dengan kedatangan seorang cewek yang gue enggak tau namanya siapa, yang pasti dia artis. Juga datang Chandra Liow dan so yolo duduk di samping gue serasa gue enggak ada. Songong abis.

Apa perlu gue yang nyapa duluan? Halo, Ko Chandra! Gimana shooting filmnya? Gue pasti nonton film lu nanti Ko. HELL NO!

Kata-kata super tiba-tiba membuyarkan kejengkelan gue, "3 menit menuju live."

Oh, shit! Oke, Teddy tenang. Lu pasti bisa. Time to nut up or shut up.

Dan akhirnya gue tampil di segemen satu dengan lancar sentosa.


Ya, kira-kira begitulah ceritanya gue tampil di televisi secara live.

Kalo ditanya perasaanya gimana, ya, pastinya deg-degan banget. Jantung gue hampir geser ke ginjal. Bangga? Gue enggak ngerti apa yang harus dibanggain dari nongol sekali satu segmen di acara tv. Tapi, kalo ditanya seneng, so pastinya seneng karena gue pastinya bakal dapet duit.

Keesokan harinya setelah gue muncul di tv, tiba-tiba nyokap gue nelepon dan bilang kalo temen nyokap gue dan keluarga gue di Lampung pada heboh ngomongin gue. Gue enggak tau harus ngomong apa kalo pulang ke Lampung. Muka gue udah nggak muat mau ditarok pantat mah.

But, at least, gue udah bisa membuat mamak di rumah bangga karena anaknye masuk tipi.

20 September 2015

Surat Kecil Untuk Jerry

Terkadang beberapa orang datang ke dalam kehidupan kita, meninggalkan jejak pada hati kita, dan karenanya kita akan selamanya menjadi orang yang berbeda.

Begitu juga dengan Jeremia Kurniawan. Seorang teman, juga sekaligus saudara gue.

Gue masih ingat pertama kali gue kenal dengan Jerry (nama panggilannya) ketika duduk-duduk di depan aula sekolah sewaktu SMP dulu. Itu pun kalo nggak dikenalin sama Eddrick, mungkin gue nggak bakal tau kalo dia saudara gue.

Di mata gue sebagai seorang teman, Jerry merupakan sosok yang random. Ceria, terkadang sok stay cool, kadang jail, pokoknya spesies teman yang patut dilestarikan.

Masih seperti minggu lalu, gue masih ingat kita pernah jualan bareng sewaktu SMP. Waktu itu gue sampai bikinin blognya, namanya Bah Bah Shop. 'Bah Bah' mungkin terdengar seperti toko yang menjual alat-alat untuk mbah-mbah, tapi sebenarnya yang kami jual flash disk, headphone, dan aksesoris komputer lainnya.

Juga masih seperti kemarin, mendengar Jerry memanggil nama gue sebagai sapaan balik, ketika gue menyapa dia yang sedang duduk di depan kelasnya.

Tapi, tiba-tiba aja, kemarin gue membaca namanya tertera dengan jelas di grup line,

"Temen-temen mohon dukungan doa nya untuk temen kita Jeremia Kurniawan, semalem meninggal karena kecalakaan di derah Pakuon Surabaya."

Kaget. Jelas.

Teman mana yang nggak kaget ketika mendengar bahwa teman yang selama ini masih sering bertatap muka tiba-tiba pergi begitu aja.

Ya. Teman gue, saudara gue, Jeremia Kurniawan telah tiada setelah mengalami kecelakaan (yang menurut gue cukup tragis) lusa malam.

Hari ini jenazahnya sudah sampai di salah satu rumah duka di Lampung dan besok akan dikuburkan.

Di bawah ini gue beberapa patah kata untuk Jerry. Semoga aja dia bisa baca apa yang gue tulis.


***
Jakarta, 20 September 2015
Untuk saudara gue,
Jeremia Kurniawan
Di Surga sana

Hoi Jer! Apa kabar?

Baru aja kita nggak ketemu beberapa bulan, eh, tiba-tiba lu udah pergi aja ke dunia yang lain. Padahal gue baru aja mau malakin lu ang pao, imlek nanti.

Gimana keadaan lu disana sekarang? Pastinya disana enak banget ya tempatnya? Banyak ceweknya nggak? Pastinya disana juga nggak panas kayak di Jakarta, kan? Ya, gue ikut seneng deh kalo lu seneng.

Karena mungkin setelah ini kita akan nggak ketemu dalam waktu yang sangat lama dan pastinya akan susah ngomong sama lu, gue mau ngucapin thanks banget udah mau jadi temen sekali saudara gue, thanks untuk apa pun pertolongan yang pernah lu berikan ke gue, dan yang pastinya gue minta maaf kalo gue ada salah ke lu selama ini. Gue sayang sama lu kok Jer. Sayang sebagai seorang teman dan keluarga ya. Plis, gue bukan homo.

Ya, pokoknya, sehat-sehat deh lu disana. Jangan maen drum keras-keras disana, nanti kena oceh lagi lu hahaha.

Oh, iya, jangan pernah lupa sama gue sampai kita ketemu lagi nanti. Gue juga pasti bakalan inget-inget lu terus.

Ya, udah deh Jer. Sekian surat dari gue ini. Have a good day ya disana! Titip salam untuk o-om Jesus ya.

Sampai jumpa lagi Jer! Sampai jumpa di dunia lain, di kehidupan selanjutnya, suatu hari nanti. Janji ya!

Saudara lu,
 Teddy Wijaya Harlim

***

Ini bukan sebuah pesan perpisahan. Karena gue yakin, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Pasti.

Kita cuma nggak akan ketemu dalam waktu yang sangat lama. Itu aja.

Karena perpisahan yang sesungguhnya terjadi ketika kita tidak mengingat lagi siapa orang yang meninggalkan kita.

Mungkin Jerry pergi dari genggaman tangan kita, dari pandangan kita, dari kehidupan kita. Tapi ingat, Jerry akan tetap ada di otak kita, di hati kita, dan... Sejarah hidup kita.

Toh, dia juga akan bahagia disana bukan?

Jadi selamat jalan Jerry. Sekali lagi, sampai jumpa di kehidupan selanjutnya.

***

REST IN PEACE


JEREMIA KURNIAWAN

***

29 Agustus 2015

Kost Misterius

Blog, kamu apa kabar?

Pembaca setia blog ini, kalian apa kabar?

Mantan pembaca setia blog ini, kalian apa kabar?

Mantan, udah mati belom?

Hola!!! Setelah beberapa minggu dikacaukan dan disibukan dengan kegiatan pindahan dan ospek, akhirnya gue bisa mulai ngeblog lagi dengan damai.

Oh, iya. Kalian udah nyadar belum kalau blog ini sekarang udah jadi www.teddylalate.com. Azek. Keren nggak? Ya, sebenarnya biasa aja, sih. Biar heboh aja.

Oke. Gue sekarang udah pindahan dan ngekost di Jakarta Barat lebih tepatnya lagi di jalan... Hmm, setelah gue pikir-pikir percuma gue kasih alamat, nggak ada yang mau kirimin hadiah juga. Ya, intinya gue ngekost dekat dengan kampus Binus Anggrek. Namanya Viktoria Kost.

Nah, gue akan bercerita sedikit mengenai kostan gue ini.

Pertama kali gue menetapkan untuk ngekost disini, gue belum tau sama sekali tempatnya seperti apa, kamarnya seperti apa, di dalam kamar ada kolam berenang indoor atau nggak, intinya gue benar-benar nggak tau sama sekali tentang kost gue ini. Yang gue tau hanyalah sebatas nama kostnya Viktoria, pagarnya berwarna coklat, dan bernomor 38.

Lu tau kostan itu dari mana?

Gue tau kostan ini dari saudara gue punya saudara dan dia ngekost disana dengan saudaranya. Oke, saudara caption. Intinya ada saudara jauh gue ngekost disana.

Karena rasa penasaran yang amat tinggi dan ini menentukan tempat gue untuk berteduh selama 4 tahun, akhirnya gue googling untuk mencari seperti apa Viktoria kost itu, dan seperti apakah kamarnya.

Dan inilah yang gue dapat.

Coba search dengan keyword 'victoria kost' kalo nggak percaya.

Setelah lama mencari akhirnya gue mendapatkan foto kostannya.

Tapi, sayangnya gue nggak menemukan foto kamarnya.

Tampak luarnya cukup bagus sih kalo menurut gue, jadinya gue agak sedikit tentang. Ya, walau pun masih sedikit penasaran.

Untuk itulah gue sekarang ingin memberikan gambaran tentang kost Victoria ini. Harapan gue, yang mau kost disini tahun depan nggak kebingungan dan penasaran kayak gue.

Viktoria kost ini terletak di jalan rawa belong no.38, Jakarta Barat. Alamat gue sudah terbongkar, jadi yang mau kirimin paket jangan malu-malu babi. Asal jangan bom aja yang dikirim. Kalo kurang jelas, kalian dari kampus Binus Anggrek jalan ke kiri, melewati sushi miyabi, terus jalan kalian akan ketemu indomaret, terus jalan lagi hingga kalian menemukan bangunan seperti gambar di atas.

Kamarnya ukuran 2x3, itu sih kamar gue, nggak tau kalo penghuni lainnya gimana.


Fasilitasnya apa aja, sih?

Untuk fasilitas ada yakuzi, lift, dan LED tv. Itu fasilitas apartement maksudnya. Nih, fasilitas yang benernya:

- Meja+Kursi+Lemari+Springbed
- AC
- Kamar mandi dalam
- Internet
- Shower
- CCTV + Satpam
- Dapur umum
- Cuci gosok

Gue rinciin lagi nih. Untuk meja, kursi, lemari, dan springbed, udah dikasih dari kostnya. Tapi, untuk sprei, bantal, dan selimut kalian harus bawa sendiri. Kalo nggak mau kayak orang abis evakuasi bencana banjir, gue saranin kalian beli aja di Jakarta.

Gue sendiri ngambil kamar yang ada kamar mandi dalam dan AC. Alasannya untuk kalian yang menganggap AC nggak penting. Begini, Jakarta itu panasnya kayak tai, gitu aja.

Internet disini kenceng abis (atau guenya aja yang dusun nggak pernah nyoba internet jakarta). Nonton youtube 720px gak buffer. Tapi, yang paling penting Dota2 lancar.

Kalo kalian nggak tahan mandi air dingin, disini juga showernya ada air panasnya. Soalnya dibeberapa kost seperti kostnya Eddrick dan beberapa temen gue, ada shower, tapi nggak ada air panasnya.

Satpam dan CCTV sih mutlak untuk keamanan dan kenyamanan menurut gue.

Dapur umum ada di setiap lantai. Jadi bagi para mahasiswa pejuang irit garis keras tenang aja, kalian masih bisa kok masak indomie dengan damai.

Cuci gosok sehari 4 potong. Boleh cuci sprei, tapi gak boleh barengan sama baju. Jadi anggaplah sprei itu jatah 4 potong tadi. FYI, kost lain rata-rata gak boleh cuci sprei.

Pengurus kostnya, Bu titi (jangan ditambah-tambahin) juga ramah dan baik banget orangnya. Nyokap gue nginep seminggu aja gratis, dikasih kasur pula.

Soal makanan nggak perlu ditanya, banyak banget disini. Mau ke indomaret tinggal ngesot pula. Ke kampus Binus Anggrek juga tinggal guling-guling.

Ya begitu aja sih informasinya. Semoga tahun depan, kalo ada yang mau kost disini gak bingung nyari informasinya.

Saran dari gue, jangan terpancing sama kemewahan fasilitas tempat X yang pastinya ditawarkan kepada semua calon mahasiswa binus. Temen gue rata-rata baru seminggu udah pada nggak betah. Saran aja sih, nggak bermaksud menjelek-jelekan. If you know what i mean.

Gue juga udah selesai FEP dari minggu lalu, cerita keseruannya bakal gue post di postingan berikutnya.

Oh, iya. Gue mau ngucapin thanks banget untuk siapa pun kalian yang masih setia bacain blog gue yang nggak jelas ini.

Thanks for standing still.

See ya~


10 April 2015

Analogi Sebotol Wine

(Post ini telah diterbitkan pada majalah Hai edisi 25 - 31 Mei 2015)

Untuk melindungi masa depan orang-orang yang ada di cerita ini, nama, tempat, dan kejadian, yang ada didalamnya udah gue ubah. Kesamaan cerita, tempat, dan nama orang... Tunggu, ini cerita lama-lama bakalan jadi sinetron FTV.

Beberapa waktu yang lalu, teman gue, Jenifer curhat ke gue panjang lebar. Dia dateng ke gue dan cerita ke gue dengan mata yang berkaca-kaca, entah kenapa banyak kaca di matanya. Dia cerita tentang pacarnya, kita sebut saja dia kantong semar. Karena dia cowok, jadi gak mungkin kita pake nama mawar.

            “Ted, gue lagi ada masalah nih,” kata dia dengan muka kayak orang gak makan tiga bulan.

            “Kenapa?” Jawab gue sambil mengutak-atik hp.

            “Kok, si Semar ngilang, ya?” tanya Jenifer sambil mengubah posisi duduknya. Mukanya menjadi serius.

            “Hah? Ngilang?”

            “Iya, ngilang gitu aja.”
Sampai detik itu, gue mengira bahwa cowoknya adalah seorang ninja. Gue pengen bilang ke Jenifer, kalo mungkin aja cowoknya lagi ada misi rahasia membantu Naruto melawan musuh bebuyutannya. Tapi, setelah ngeliat muka Jenifer yang serius, gue urungkan niat gue untuk ngomong begitu. Takutnya gue ditabok pake bangku sama dia.

            “Maksud lu, gak ketemu-ketemu sama lu gitu?”

            “Iya,” jawab Jenifer lirih.

            “Memangnya lu gak bisa contact dia?”

            “Dia jawabnya singkat banget. Cuma, he-eh, iya, ketawa. Begitu doang,” kata Jenifer sambil membuka hp-nya dan menunjukannya ke gue, “coba lu liat, nih,” lanjutnya.

Bagi gue, ketika seseorang, apalagi cowok menghilang begitu aja dari pacarnya dan menjawab chat pacarnya dengan singkat padat dan gak jelas. Itu tanda-tandanya si cewek bau ketek. Bukan, maksud gue. Artinya, si cowok mulai bosen sama dia.

            “Menurut gue, dia bosen sama lu kayaknya Jen,” kata gue datar.

            “Iya tah, Ted?” jawab Jenifer dengan nada memelas.

            “Biasanya sih begitu.” Kata gue sambil mengambil buku dari dalam tas gue.

            “Gue harus gimana dong, Ted?” Tanya dia lirih, “Tapi, dia bakal biasa lagi kan?”

Menurut gue, ketika pacar kita mulai bosen sama kita, menanyakan pertanyaan seperti, ‘dia bakal biasa lagi kan?’ itu sama aja kayak pasien yang kedua kakinya akan diamputasi, tetapi dia nanya ke dokternya, “Tapi, dok, saya masih bisa jalan kan?”

Pacar yang bosen juga dari berbagai hal. Dan yang paling terutama menurut gue adalah tipe pacar yang ‘everywhere’. Iya, ‘pacar yang selalu ada di mana-mana’. Di sekolah ada dia, di tempat les ada dia, di wc ada dia (lho?). Karena menurut gue pacar yang ada dimana-mana sebenarnya adalah penyakit dalam pacaran.

Memang pacar yang selalu ada disaat kita senang maupun sedih itu baik, tapi jangan berlebihan juga. Misalnya, udah setiap hari ketemu di sekolah dan di les, di twitter masih aja nge-mention si pacar terus, di facebook si pacar pasang status masih aja di-comment, ya lama kelamaan, saking si pacar ada dimana-mana, jadinya bosen lah.

Ini mungkin penyebab utama yang Jenifer alami. Si Jenifer terlalu kelihatan everywhere.  

            “Kalo gue jadi dokter, Jen, mungkin status pacaran lu ini udah gue vonis mati,” kata gue dengan datar.

Gue tau apa yang gue katakan itu mungkin menyakitkan buat dia. Tapi, seperti kata pepatah, dua anak lebih baik. Sebentar, salah quotes. Yang bener, lebih baik kejujuran yang pahit dari pada kebohongan yang manis (cie ileh).

            “jadi?” tanya Jenifer sambil menunduk.

            “Begitulah,” menurut lo?

Menurut gue gak ada yang bisa dipertahanin lagi dari cowoknya si Jenifer. Muncul juga nggak, bales ogah-ogahan, apa yang perlu dipertahanin lagi? Mati segan, ditabrak becak. Maksudnya, mati segan, hidup pun tak mau.

            “Tapi, Ted, dia dulu bilang ke gue kalo dia gak bakal ninggalin gue loh, Ted?!” Kata dia meyakinkan bahwa perkataan gue salah.

            “Semua cowok juga bisa ngomong begitu. Gue juga bisa,” jawab gue sambil melihat jam di hp, “ngumbar janji doang. Janji yang gak bakal bisa dia tepatin,” lanjut gue.

Gue menatap mata Jenifer. Matanya sudah sangat berkaca-kaca. Mungkin sebentar lagi akan banjir, pikir gue. Kalo udah begini, gue gak tau harus ngapain. Gue bukan tipe orang yang bisa nguatin orang yang lagi sedih seperti ini.

Gue pengen coba make buku di tangan gue dan teriak a la cheerleader “,give me S, give me E, give me M, give me A, give me N, give me G, give me A, give me T, S-E-M-A-N-G-A-T!!!,” tapi gak mungkin kan?

Di situ terkadang saya merasa sedih...
¨
Malam itu gue lagi menjalankan disiplin menulis gue, tiba-tiba notifikasi line gue berbunyi. Biasanya sih, malam-malam cuma operator dari line aja yang masih sudi nge-line gue. Kalo gak, paling ibu-ibu kantin sekolah. Tapi, pas gue chek, ternyata line dari Jenifer.
Jenifer curhat lagi tentang kabar dia sama pacarnya, si Semar.

“Ted, dia masih gak bales-bales chat gue lho. Kalo bales pun, masih tetep singkat,” kata Jenifer. Dia juga mengirimkan foto percakapan di hp-nya. Miris banget gue ngeliatnya.

“Ya, namanya juga bosen. Pasti begitu,” balas gue.

“Terus, gue harus gimana, Ted?”
Dengan pertanyaan dia barusan, dia udah nanya pertanyaan ‘gue harus gimana’ ke gue sebanyak 7 kali. Dan sayangnya, gue juga gak bisa ngejawabnya.

            “Kok, dia berubah secepat itu ya, Ted?” katanya lagi
Membaca pertanyaan itu, gue diam sejenak. Gue menyandarkan badan gue ke kursi. Lalu melihat ke sekeliling ruang tamu rumah gue. Gue menatap tv yang sedang menayangkan acara dangdutan. Tv ini udah pernah ganti. Gue masih inget, dulu tv gue berbentuk kotak hitam menggembung, dan lebih kecil dari yang sekarang. Lalu gue menatap tembok rumah gue. Tembok ini juga udah pernah berkali-kali ganti warna cat.

Waktu memang terasa berjalan cepat. Tanpa kita menyadari, semua hal yang berada di sekeliling kita berubah. Benda-bendanya, suasananya, termasuk juga orangnya. Semua pasti berubah. Tanpa kita 
 sadar, kita juga pasti berubah.

Gue berubah. Dulu gue orangnya gak berani ngomong di depan orang banyak, tapi seiring waktu gue berubah jadi orang yang lebih berani tampil di depan orang banyak.
Waktu memang kejam. Ketika kita tak sadar, waktu bisa merubah apa pun yang ada disekitar kita dengan cepat.

Gue kembali menggenggam hp gue. Gue balas Jenifer yang mungkin udah nunggu balasan dari gue karena gue abis ngelamun dulu.

           “Kita semua pasti berubah,” balas gue.

Dalam hal ini, pasangan kita juga pasti berubah. Pasti. Tapi, kalo kita mencintai pacar kita apa adanya. Seharusnya cinta itu sendiri, gak akan berubah.

Hal ini gue analogikan dengan sebotol wine. Wine semakin lama disimpan akan semakin baik kualitasnya, tapi kita juga tau, walaupun kualitasnya berubah, ada yang masih tetep sama. Wine tetep aja wine. Gak akan berubah walaupun kualitasnya berubah. Ada rasa yang tetep sama.

Sama dengan kita dan pasangan kita. Waktu mungkin akan merubah pribadi kita. Tapi, kita tau kalo cinta, ya harusnya tetep aja cinta. Gak bakal berubah.

Tapi dia berubah, Ted?

Itu mah dianya bukan wine, tapi ‘jus anggur’. Makanya cintanya juga jadi...BASI~
¨

12 November 2014

Mencari Kopi yang Sempurna

“Semua cowok itu sama aja, ya!”

Entah kenapa, kalo gue denger cewek ngomong begitu, rasanya pengen banget gue samperin, abis itu gue jawabin di depan mukanya, “SIAPA YANG SURUH SEMUA COWOK DICOBAIN!”

Beberapa bulan yang lalu, temen gue ngomong begitu di depan muka gue. Pengen banget rasanya gue jawabin begitu, tapi sayangnya badannya mirip dengan gorila. Bukan, lebih tepatnya king kong yang lagi PMS. Bisa-bisa badan gue dipatahin jadi dua bagian kalo gue ngomong begitu di depan dia.

Waktu itu seorang temen gue juga cerita tentang mantan pacarnya dan secara halus mengucapkan kata-kata itu juga. “Kenapa sih ya Ted, gue kayaknya gak pernah deh, ketemu jodoh gue? Kayaknya semuanya sama aja deh akhirnya.” Kata dia.

“Ya, mana gue tau.” Kata gue santai, “memang lo nya aja kali yang belom ketemu orang yang pas.”

“Tapi kapan dong ketemunya? Masa harus begini terus. Putus, jadian, putus, jadian.”

“Ya, biarin aja waktu  yang menjawab. Kalo kata orang tua mah, jodoh mah gak kemana.”

“Iya, ya?”

Waktu itu gue juga berpikir. Gue juga kurang yakin. Tentang apa yang namanya jodoh. Seseorang yang kita rasa sempurna buat kita.

Eddrick, sahabat gue juga mengalami problema yang sama. Dia ini sering banget putus kalo pacaran. Mungkin kalo kontak di HP-nya kita cek, ada nomor dengan nama kontak: mantan no.1, mantan no.2, mantan nomor 131, dan seterusnya (gak ding, becanda. Peace Eddrick).

Terakhir kali dia jadian, akhirnya sangat dramatis, mirip dengan drama korea. Kata kabar beruang (burung. Typo) yang beredar, mantannya peluk-pelukan dengan teman-temannya sambil nangis. Disini gue curiga bahwa Eddrick sebenarnya berpacaran dengan sejenis spesies telletubies. Entahlah.

Waktu itu Eddrick ngomong begini sama gue beberapa hari setelah dia putus, “Abis putus itu enak ya. Berasa free gue.”

Memang sih, banyak orang bilang bahwa single itu bebas. Karena, bagi sebagian orang pacaran berarti dipenjarakan. Ada yang dilarang pacarnya untuk main game, ada yang jadi ojek zone karena sering diminta antar jemput kayak tukang ojek, intinya mereka mereasa dipenjarakan karena itu. Tapi, rasa bebas itu lama kelamaan akan pergi seiring datangnya kesepian.

“Ah, bentar lagi juga lo pacaran lagi.” Kata gue kepada Eddrick sambil menyenderkan punggung gue ke jok mobil.

“Kaga. Gue lagi gak mau pacaran-pacaran dulu.’ Sergah dia.

 “Ya, kita liat aja nanti.”

Gue memejamkan mata sejenak. Gue berpikir. Kenapa ya orang-orang bisa begitu gampangnya pacaran dan akhirnya putus?

Seperti yang Eddrick alami selama ini. Ngedeketin cewek, terus jadian, dan akhirnya putus dengan sukses. Terus menerus begitu. Setidaknya, hingga yang terakhir kali ini.

Walaupun gue temannya sedari kecil, gue juga gak tau apa yang dia cari. Atau mungkin, dia juga mencari seperti yang selama ini sebagian orang cari. Seseorang yang sempurna.

Gue juga pernah mencari seseorang yang sempurna itu. Yang orang sering sebut dengan ‘jodoh’. Tapi, hingga sekarang gue gak pernah menemukan seseorang yang sempurna itu. Mungkin aja seperti yang gue bilang ke teman gue waktu itu. Mungkin waktu belum menjawab. Waktu belum ingin mempertemukan kita. Semesta belum mengizinkan.

Mungkin.

Kurang lebih sebulan yang lalu, gue pergi bareng Eddrick dan calon mantan gebetan nomor satu Eddrick (waduh, gimana tuh) untuk sabtu maleman. Iya, sabtu maleman. Karena malem mingguan sangat haram disebutkan bagi kami kaum jomlo.

Kita pergi ke salah satu kafe yang biasa kita kunjungi. Disana biasanya, gue jadi obat nyamuk nungguin mereka ngobrol sambil ngetik. Mereka berdua biasanya bercandaan, selfie-selfie alay, yah, kegiatan alay lainnya lah.

Waktu itu gue lagi ngetik cerita ditemani secangkir cafe latte yang gue pesan. Ngetik di kafe itu serasa jadi penulis profesional bagi gue. Gue juga biasanya selalu memesan kopi ketika berada di kafe untuk membantu gue tetap fokus ngetik.

Sambil melihat Eddrick dan gebetannya selfie, gue menyedot cafe latte yang gue pesan. Terasa agak pahit. Lalu, gue sadar kalo ternyata gue belum mengaduknya. Perlahan gue aduk, kemudian gue sedot kembali untuk memastikan semuanya telah teraduk rata. Masih sedikit terasa pahit. Gue melihat kembali ke arah Eddrick dan gebetannya. Mereka sedang tertawa melihat hasil foto mereka.

Sebenarnya Eddrick dan gebetannya ini sudah lama dekat. Lama banget. Jauh sebelum Eddrick pacaran dengan yang terakhir mereka juga sudah dekat. Tapi, entah kenapa mereka gak pernah jadian. Dan anehnya mereka tetap dekat hingga sekarang.

Disitu gue sadar. Mungkin itu yang disebut jodoh. Ternyata jodoh itu ada. Mungkin semesta aja yang belum mengijinkan mereka untuk bersatu. Tapi, satu yang pasti gak ada. Gak ada cewek atau cowok yang sempurna di dunia ini.

Hal ini gue analogikan dengan kopi. Ke mana pun kita mencari kopi, kopi tetaplah sama. kita tidak akan pernah menemukan kopi yang sempurna. Bagaimanapun kopi itu diolah, rasa pahit dari kopi itu tetap akan ada.

Sama seperti mencari cewek atau cowok yang sempurna untuk kita. Cewek atau cowok yang sempurna itu cuma ada di novel teenlit  dan FTV doang. Karena gak akan ada cewek atau cowok yang sempurna di dunia ini. Semuanya pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan pada akhirnya semua itu bergantung pada diri kita. Apakah kita mencintai si dia dengan apa adanya atau ada apanya.

Dan bagi gue, mencintai seseorang apa adanya adalah kopi yang sempurna, yang semua orang cari selama ini.